BLOGGER TEMPLATES AND Google Homepages »

Thursday, October 22, 2015

Bolos

Aku ingat hari ini adalah hari tepat aku berpacaran sebulan dengannya, meskipun begitu, kakiku masih tertahan di belakang kursi roda milik bunda yang terparkir menutup tempat duduk besi rumah sakit yang kududuki saat ini. Kulihat perlahan, napasnya terengah-engah sembari menahan sakit di kaki kanannya yang bengkak akibat persendiannya yang bermasalah. Sesekali aku melihat jam dinding putih yang berada di atas pintu masuk ruang radiologi, menandakan bahwa aku sudah benar-benar telat untuk mengikuti mata kuliah bahasa inggris. Sungguh, absensiku di bawah 50%. Dan mungkin, aku tak punya pilihan lain selain mengulang. Atau, mundur. Aku takut namun tak mungkin meninggalkan bunda yang terengah-engah di depanku.
Bunda menengok ke belakang lalu menggenggam tangan kiriku, "Maafkan bunda ya nak. Kamu jadi harus bolos kuliah karena bunda ngga bisa ngapa-ngapain. Bahkan untuk berdiri aja bunda ngga kuat." Matanya benar-benar memberikan kesan penyesalan.
"Ngga bunda, bunda ngga boleh bilang gitu. N... aku sekarang disini bunda... Sama bunda. Sekarang bunda fokus untuk penyembuhan bunda ya." Jawabku reflek sambil mengelus tangan putihnya yang dingin.
Dari seberang, pamanku telah melambaikan tangan dan menunjuk tangan kirinya seperti bertanya akankah aku beranjak dari tempat dudukku. Aku hanya dapat menggeleng. Dan tiba-tiba aku hilang kendali dalam tubuhku.

*

"Nat?"

"Nata?"

Aku membuka mataku perlahan, kulihat mata bundaku melirikku dengan cemas meraih tangan ku lalu menggenggamnya erat. Kenapa bunda tahu kalau aku Nata? Kenapa bunda bisa tahu.

"Bunda minta anak bunda untuk kembali kesini. Jangan ambil bagiannya." Ucap bunda di telingaku dengan suara parau.

Aku menangis tanpa suara lalu menutup mata. Aku tahu aku tidak pantas untuk bunda pikirku matang.

*

0 comments: