BLOGGER TEMPLATES AND Google Homepages »

Wednesday, September 16, 2015

Kampus... Atau apalah

Tikungan terakhir terasa sangat amat jauh dari harapan. Sungguh sepertinya saya sudah muak dengan ini semua. Tapi, saya sadar bahwa cinta buta itu ga punya jalan keluar kecuali kembali menjadi diri sendiri.
Dan setidaknya, sekarang dia ngga akan pergi lagi. Atau, N1 yang sudah di genggamnya bukan lagi halangan baginya untuk pergi ke negeri sakura sana. Sejujurnya aku bukan siapa-siapa yang bisa saja pergi dari tempat ini ataupun melupakan semua kenangan kelam itu. Psikologi. Itu bagian dari diriku. Dan itu bukan senpai.
Dia yang saat ini menunggu seperti kesakitan dalam sana. Menunggu Tes Toeic. Ataupun mengejar semua hal dengan kakinya yang rapuh karena cintanya hilang oleh waktu. Aku bukan orang yang mengerti arti cinta. Aku gemar tanka. Gila Psikologi. Ambisius tanpa jalan dan harapan yang pasti, menikung sesukaku. Namun apa yang ia temukan bukanlah hal yang baru bagiku. Menghitung hari jika itu cukup. N 1... Bahkan untuk menyentuh dan mengetuk pintu saja ku tak berani. Sediakah aku mengerti?
Ini jalanmu kak. Ini bukan aku. Ini bukan kona yang kamu kenal. Hingga tamat riwayatku. Apa ini semua akan hilang?
Apa aku masih telat jika ingun mengerti dirimu? Aku ngga mengerti jalan cerita ini. Menyanyi, bahasa inggris, psikologi. Semua itu hilang ditelan ombak laut. Aku hanya ingin semuanya kembali. Kembali seperti dulu, tanpa mengenal apa itu harapan akan ketidak pastian. Aku mau disini. Disini, di kampus ini. Tanpa dorongan darimu. Aku ingin berjalan sendiri. Tanpa senpai yang mendorongku. Aku tahu, seberapa kecewanya ngga bisa masuk psi. ngga bisa ngertiin mama. ngga bisa banggain dia dengan semuanya. Aku sadar dan paham. Tapi entah gimana caranya. Aku ingin kembali menjadi diriku. Aku sadar. Ini semua perintah nenek yang ingin aku kembali ke Kyoto. Aku ingin kembali ke rumah, dimana kak Nata masih disana...

Aku kangen kak Nata. Maaf kalau aku belum bisa membuat kakak senang. Maaf jika aku ngga bisa masuk ke University di Birmingham seperti yang papa banggakan. maaf aku ngga keterima di tempat mama dulu dapat s1. Maaf aku ngga bisa secepat senpai belajar. Aku sadar. Aku bukan siapa-siapa untuk senpai. bahkan ngga punya apapun untuk di banggakan.

Aku, disini bukan untuk nyaingin senpai. Aku disini untuk diriku,. Hidupku. Aku akan tetap mencoba untuk tahun depan. Meski entah apa yang akan menjemputku. Aku ngga mau semua ini sia-sia. Kita bukan siapa siapa. tapi, entah berapa hal yang terjadi dalam hidupku terselamatkan karena senpai.

Maaf

Calista

0 comments: